Tampilkan postingan dengan label Food Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Food Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 08, 2011

Susu Jagung Manis

Dear Friends.....
Hari Sabtu yang lalu...my HubBy berangkat ke Bogor (dalam rangka menimba ilmu...^_^) ...otomatis aq alone @ home..halah lebay.com .... tapi untungnya my Lovely Ibuk dateng ke rumah so....i'm not alone anymore dwech..hehehe
Pagi" maz cakep udah mandiin si XeXi mpe glossy abiz ... trus qt berdua termangu ngliat tumpukan jagung manis yang belum diolah.... sssstt maz cakep abiz panen jadi do'i bawa pulang jagung manis satu pack (secara maz cakep berkarya di Research alias breeder jagung manis gitchu loh)... Mayan juga buat oleh" tukang lampu yang rela berpanas-panasan mbenerin tiang lampu beserta saluran listrik siang itu..... Kembali ke tumpukan jagung manis yang menggoda tadi akhirnya maz cakep punya ide dibikin susu jagung ajah.....hmm kayak apa ya rasa n performance-nya?? penasaran juga jadinya
buat ngilangin rasa penasaran itu akhirnya aq cb googling cara membuat susu jagung manis n WoW ternyata minuman ini sangat digemari di daerah Ambarawa Jawa Tengah yang terkenal dengan sebutan cornmilk coz di sana adalah daerah penghasil jagung manis terbesar se-propinsi Jawa Tengah.....ooo n ternyata jagung manis selain mancap dikukus,direbus,dibakar n disayur...juga bisa dibikin minuman sari jagung manis, susu fermentasi ato yoghurt jagung manis, selai n tempe jagung manis lho....keren khan *_^
Variatif banget ya...dari satu bahan bisa jadi bermacam-macam olahan...akhirnya qt berdua mulai mempraktekkan cara bikin susu jagung manis (tanpa fermentasi)..maklum masih trial jadi aq pengen coba bikin minuman swegerr dalam waktu singkat dengan alat yang sudah tersedia...n GO mari qt mulai...

Langkah 1:

Qt bersihkan jagung manis yang masih segar dari rambut jagung trus qt pipil...biar mudah sisir aja pake pisau
4 tongkol jagung manis ukuran sedang cukup lah buat 3 gelas susu jagung manis







Langkah 2:

Masukkan pipilan jagung manis ke dalam blender..lalu tambahkan 2 gelas air hangat sebagai pengencer dan untuk meminimalisir aroma langu jagung manis














Langkah 3:

Blender jagung manis mpe bener-bener halus ya











Langkah 4:

Saring jagung manis yang udah diblender...
Tambahkan air dengan perbandingan 1:4
Sisihkan ampas jagung manis....
(sebenarnya ampas jagung manis masih bisa dimanfaatkan untuk membuat selai dan tempe jagung manis...tp g sekarang ah bikinnya...dah haus niy hehehe...)





Langkah 5:

Rebus sari jagung manis di atas api sampai suhu 80 derajat Celcius...
Kalo mau ambil sarinya aja bisa disaring lagi coz biasanya setelah direbus, sebagian zat pati yang ikut dalam rebusan akan menggumpal seperti jelly ... yummy






Langkah 6:

Tambahkan susu kental manis atau susu skim biar tambah gurih...
bisa juga ditambahkan gula pasir atau gula jawa untuk minuman berenergi....
kalo pengen diet gula..bisa langsung dikonsumsi... slurp...slurp...






Dan tarra.....ni dia susu jagung manis yang udah siap diminum....dingin lebih enak lho....
seperti susu pada umumnya....batas aman dan sehat untuk dikonsumsi kalo disimpan pada suhu ruang hanya 6 jam....kalo disimpan pada suhu dingin bisa tahan lebih lama..
Dibekukan juga mak nyuuss lho...^_^

Ayo bikin yuuukkk....
3 komentar

Jumat, Februari 19, 2010

Soto Mata Sapi dari Madura


Akhirnya, bulan lalu, untuk pertama kalinya saya melintasi jembatan kebanggaan bangsa kita – Jembatan Suramadu. Karya putra bangsa ini membentang sepanjang lebih dari lima kilometer, menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Dari jendela lantai 18 kamar hotel saya di Embong Malang, jembatan ini tampak megah menghiasi panorama sebagian kota Surabaya, Selat Madura, dan sebagian Pulau Madura.

Berbagai jenis sarapan khas Madura pun sempat saya cicipi satu per satu. Dimulai dengan aneka bubur yang dijajakan penjual jongkok di Pasar Bangkalan. Seperti juga hampir selalu dapat dijumpai di berbagai kota Indonesia lain, bubur dan berbagai jajan pasar merupakan hidangan sarapan yang cocok. Pasalnya, berbagai jenis bubur ini mengandung karbohidrat yang membuat kenyang, cukup lunak sehingga mudah ditelan di pagi hari ketika “ruh” belum sepenuhnya terkumpul, dan juga mengandung gula yang secara sontak memberi energi.

Karena penjual bubur di Pasar Bangkalan ini kebanyakan berasal dari Desa Sobih, di dekat Bangkalan, maka bubur ini dikenal dengan nama tajin sobih. Jualan utamanya mirip bubur sumsum di Jawa, yaitu bubur dari tepung beras, santan yang dikentalkan, dan gula merah cair. Di samping itu, mereka juga menjual ketan hitam kukus yang dimakan dengan parutan kelapa, lopis, ongol-ongol, cenil, dan berbagai jajan pasar lainnya.

Seperti pernah saya kemukakan, sarapan seperti ini merupakan local wisdom yang akan menyelamatkan kita dari krisis pangan. Sumber karbohidratnya tidak melulu dari beras, melainkan dari berbagai umbi yang tersedia luas dan mudah ditanam dalam kondisi yang pas-pasan.

Karak dan nasi serpang

Sarapan kedua saya adalah makanan yang di Madura dikenal dengan nama karak. Uniknya, masakan khas ini hanya “beredar” di kampung Timur Pasar, tidak jauh dari alun-alun Bangkalan. Ternyata, yang disebut karak bukanlah nasi gosong yang melekat di dasar periuk seperti yang saya sangka semula. Disajikan di pincuk daun pisang, nasinya adalah campuran ketan hitam dan beras, sehingga menghasilkan tekstur yang sungguh khas. Tidak sepulen ketan (dalam bahasa Madura disebut plotan), dan menjadi lebih lembut karena dicampur beras. Lauknya hanya sejumput teri goreng dan parutan kelapa. Hidangan sederhana ini merupakan sarapan yang memuaskan.

Selain karak, di Bangkalan juga populer nasi serpang. Lagi-lagi, penamaan ini semata-mata karena semua penjual nasi di pinggir jalan ini berasal dari Desa Serpang di utara Bangkalan. Salah satu penjual nasi serpang yang populer – mungkin karena penjualnya cantik – mangkal di pinggir Jalan Lemahduwur, dekat Pecinan-nya Bangkalan.

Sebetulnya, nasi serpang ini hampir identik dengan nasi kucing yang sekarang populer di Jawa. Nasinya sedikit, dengan pilihan berbagai lauk sederhana. Tetapi, orang Madura memang dikenal piawai dalam hal memasak. Para ibu rumah tangga di Surabaya kebanyakan akan mencari pembantu dari Madura karena alasan ini.

Kesederhanaan lauk-pauk nasi serpang tetap dibalut dalam kerangka keahlian memasak ini. Semua masakannya seudeup. Duh, bahasa Sunda ini mungkin belum eksis, ya? Istimewanya lagi, penjual nasi serpang selalu menghadirkan masakan yang bahannya dari laut hingga udara. Mulai dari berbagai masakan ikan dari gatra laut, sayur-mayur dan ayam dari gatra darat, hingga burung puyuh goreng yang mewakili gatra udara. Hanya masakan dari gatra “kepolisian” saja yang tidak ada. He he he ...

Juara dan mak nyuss..

Dalam tulisan tentang Madura beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis tentang masakan juara dari Rumah Makan Amboina di dekat alun-alun Bangkalan. Bukan masakan Ambon, melainkan karena si empunya adalah orang Madura asli yang pernah beberapa tahun “terdampar” di Ambon.

Nah, juara keduanya adalah Rumah Makan Hikmah, di pinggir jalan raya utama Bangkalan. Rumah makan ini menghadirkan berbagai masakan khas Madura. Salah satu yang paling khas di sini adalah ikan bang-bangan (dalam logat Madura diucapkan sebagai beng-bengan). Ikan bang-bangan adalah ikan kakap merah yang dikeringkan dengan sedikit garam. Setelah kering, ikan ini dilembabkan kembali (rehydrate), lalu diiris tipis-tipis, dan dimasak dengan kuah mirip semur kental, tetapi dengan sedikit petis ikan. Dengan nasi hangat saja, sajian ini benar-benar mampu menggoyang lidah.

Madura juga terkenal dengan bebek gorengnya. Sekalipun menurut benchmark saya bebek paling juara adalah masakan H. Slamet Rahardjo di Kartasura – yang sekarang sudah buka waralaba di berbagai kota – tetapi, bebek goreng Madura sungguh tidak dapat dianggap enteng. Di Jalan Tembaan, samping Tugu Pahlawan Surabaya, ada penjual bebek goreng Madura yang istimewa. Begitu juga di “Kampung Madura” di Pulogadung.

Di jalan raya menuju Ketengan, ke arah Timur Bangkalan, ada Rumah Makan Sinjay yang khusus menjual bebek goreng. Rumah makan ini ternyata menjadi persinggahan mobil-mobil yang ramai lewat. Setiap harinya ratusan ekor bebek “dibantai” di sini.

Bebek gorengnya empuk, dengan bumbu yang meresap ke tulang. Di atas bebek yang digoreng hitam, ditaburkan sisa-sisa bumbu yang menjadi kering digoreng. “Kremes” yang sungguh gurih. Sambal trasinya diperkaya dengan serutan mangga muda. Mak nyuss!

Petualangan kuliner saya di Bangkalan ini ditutup dengan satu menu yang unik dan istimewa. Soto mata sapi! Ini bukan dari mata sapi berbentuk telur ayam goreng! Melainkan dari matanya sapi. Tersedia di Warung Istimewa, di jalan raya Desa Burneh, ke Timur dari Bangkalan.

Setiap hari, warung ini “memborong” bagian mata sapi (berikut sedikit tulang tengkorak yang mengelilinginya) dari berbagai pasar. Bahan dasar ini direbus sampai lima jam, sehingga menghasilkan kuah yang kental dan pekat. Bagian padat mata sapi masih utuh terbalut tulang. Setelah dibumbui, mata sapi ini disajikan sebagai soto dengan tambahan sedikit irisan daging sapi rebus.

0 komentar

Ke Bandung Lewat Pinggiran


Gurame Bakar Cobek Mang Use.
Ayam Bakar Sederhana.
Tape Ketan Putih.

Jalan tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) membuat Jakarta-Bandung seperti tak berjarak lagi. Beberapa kali saya berangkat dari Semanggi di Jakarta Selatan dan tiba di Pintu Tol Pasteur, Bandung, 2 jam kemudian. Padahal, pada saat-saat macet, jarak dari Semanggi hingga ke rumah saya di Sentul City sering kali juga harus ditempuh dalam waktu 2 jam.
Kalau sedang tidak terburu-buru karena ditunggu "mojang Bandung anu gareulis pisan", mungkin lintasan ini dapat Anda pilih.

Semula banyak orang beranggapan bahwa dengan hadirnya jalan tol itu, hotel-hotel di Bandung akan sepi mengingat banyak orang dapat pergi-pulang tanpa menginap. Nyatanya, setelah jalan tol itu beroperasi, semakin banyak pula hotel baru bermunculan di Bandung.

Yang jelas, banyak tempat makan di lintasan lama yang kini kehilangan para tamunya. Bahkan, banyak yang terpaksa melakukan downsizing. Rumah Makan Alam Sari, misalnya, yang dulu pernah punya empat lokasi, sekarang hanya tinggal dua. Itu pun terpaksa dengan cara membuka lokasi baru yang tampak dari jalan tol. Tidak sedikit warung kecil yang terpaksa gulung tikar karena kehilangan traffic yang semula mengarus 24 jam di lintasan itu.

Soto Sadang di pinggiran Purwakarta, contoh yang lain, tampak agak sepi sekarang. Untungnya, soto Sadang melakukan “jemput bola” dan membuka gerai-gerai kecil di beberapa SPBU di jalan tol Jakarta-Cikampek maupun Purbaleunyi. Bila kangen Soto Sadang, biasanya saya singgah di pitstop Kilometer 57 Cikampek-Jakarta. Pilihannya adalah soto dengan kuah bening atau santan, dengan isian ayam, sapi, atau babat. Soto Sadang sekarang juga menyediakan sop buntut.

Purwakarta

Minggu lalu, saya sengaja pergi ke Bandung melewati lintasan lama. Kota pertama yang saya singgahi adalah Purwakarta. Selain soto sadang, Purwakarta juga terkenal dengan sate maranggi. Terus terang, saya lebih suka sate maranggi gagrak Cianjur. Di Cianjur, sate maranggi hanya dibuat dari daging sapi.

Setelah dagingnya dirangkai menjadi sate, direndam dalam bumbu yang utamanya terdiri atas kecap manis dan ketumbar sehingga hasil akhirnya adalah tendangan rasa mirip dendeng. Sate maranggi gagrak Cianjur ini mirip sekali dengan sate sapi manis di Ungaran, seperti Pak Kempleng atau Pak Isman.

Di Purwakarta, satenya hanya direndam dalam kecap manis. Ada pilihan daging, yaitu sapi atau kambing. Karena direndam semalam, secara teknis dagingnya telah mengalami pelayuan (aged) sehingga membuatnya lebih empuk.

Sayangnya, di Purwakarta juga tidak ada tradisi makan sate maranggi dengan nasi uduk. Di Cianjur, sate maranggi umumnya dimakan dengan nasi uduk yang dimasak dengan sedikit kunyit sehingga warnanya kuning muda. Satenya juga disajikan dengan sambal oncom.

Di Desa Cihuni, pinggiran Purwakarta, ada beberapa penjual sate maranggi. Salah satu yang paling terkenal adalah Mang Use. Sebetulnya, dibandingkan dengan yang lain, Mang Use relatif belum lama berjualan. Sejak tahun 1998 ia berjualan keliling kampung dengan pikulan.

Namun, sejak tiga tahun yang lalu ia mengubah posisi. Bukan Mang Use yang berkeliling mencari pembeli, melainkan pembelinya yang harus datang ke rumah Mang Use yang bagian depannya telah disulap menjadi warung sate maranggi.

Kentara sekali bahwa warung Mang Use yang paling laris di lintasan itu. Selain sate maranggi, di warung ini juga tersedia gurame bakar cobek. Mungkin karena saya sudah telanjur setia dengan sate maranggi Cianjur, di warung Mang Use ini yang mengesankan bagi saya justru gurame cobek. Sambalnya tidak terlalu pedas, tetapi sangat gurih. Kalau saya perhatikan dengan teliti, tampaknya kegurihan sambal itu didukung oleh bawang merah yang digoreng utuh dengan kulitnya, baru kemudian digerus menjadi sambal.

Kalijati

Dari Purwakarta, perjalanan saya teruskan ke Kalijati. Kota kecil itu cukup terkenal karena di sini ada pangkalan TNI AU yang hingga kini masih aktif. Pada masa pendudukan Jepang, pangkalan itu pernah menjadi landasan strategis bagi balatentara Jepang.

Ada satu tempat makan di Kalijati Barat yang tidak boleh dilewatkan. Namanya RM Sederhana. Tempatnya di tepi jalan raya, karena itu cukup populer dan cukup mudah ditemukan.

Hidangan istimewa di rumah makan ini adalah ayam bakar. Menjelang jam makan siang, beberapa puluh ayam panggang tampak bertumpuk di sebuah lemari kaca. Sangat menggiurkan. Sepintas tampak seperti ayam goreng karena warnanya yang coklat cantik.

Akan tetapi, sebenarnya itu dihasilkan dari “teknik” memanggang yang lebih mirip seperti mengasap. Lidah api sama sekali tidak menyentuh ayam yang dibakar, tetapi bara panasnya cukup membuat ayam matang. Teknik yang sama juga dipakai dalam membakar ayam tandoori di India.

Karena yang dipakai adalah ayam kampung, hasilnya adalah ayam bakar yang garing tidak berlemak, gurih, dan renyah. Saya sengaja memakai istilah renyah karena teksturnya memang tidak empuk. Saya sungguh terkesan dengan penampilan dan citarasa ayam bakar itu.

Di rumah makan tersebut, penyajiannya juga mirip di rumah makan padang. Semua masakan sudah tersedia di meja–kecuali ayam bakar yang harus diminta khusus. Lauk-pauk yang tersedia di meja adalah standar masakan Sunda: tahu dan tempe goreng, ikan mas goreng, dan lain-lain. Lalapannya khas, yaitu hadirnya seikat daun singkong yang dikukus utuh dalam ikatannya–di samping sayur-mayur mentah yang biasa dilalap. Sambalnya adalah pilihan sambal dadak atau sambal oncom.

Saya memilih sambal oncom tentu saja. Soalnya, di Desa Dawuan, tidak jauh dari Kalijati, banyak dijumpai pembuat oncom khas Dawuan yang dibuat dari kacang tanah. Kebanyakan oncom di Bandung dibuat dari ampas tahu–alias kedelai kuning. Oncom dari kacang tanah tentu saja rasanya lebih gurih.

Selain lauk-pauk melimpah, di meja juga tersedia dessert berupa tape dari ketan putih yang dibungkus daun kemiri. Penampilannya sangat mirip dengan tape ketan putih di Brebes, Jawa Tengah. Bedanya, di Brebes tapenya dibungkus daun jambu air, sedangkan di Kalijati pembungkusnya adalah daun kemiri. Keduanya menciptakan jejak pulasan warna hijau lembut pada tape yang manis. Tape itu juga cocok untuk dibungkus sebagai oleh-oleh.

Setelah Subang

Di lintasan itu juga banyak terdapat warung nasi Sunda yang berjajar-jajar di tepi jalan Desa Cijambe, tidak jauh setelah melintasi Subang. Kebanyakan warung nasi di sini memanfaatkan pemandangan indah pegunungan. Bahkan, ada yang menghadap ke hamparan kebun teh.

Saya singgah di RM Nangka. Seperti juga kebanyakan warung di Cijahe, di sini juga ada berbagai pilihan nasi: nasi timbel, nasi bakar, nasi merah, nasi liwet, dan nasi tutug oncom. Ada pula beberapa lauk yang jarang muncul di tempat lain, misalnya gepuk atau empal yang dibentuk seperti bola dan diikat bambu halus. Empuk dan gurih.

Setelah Cijahe, titik berhenti berikutnya yang dapat disinggahi adalah Cikole dan Lembang. Di Lembang lebih banyak pilihan. Di pasar ada yang menjual ketan bakar dengan berbagai bumbu. Ada juga dua rumah makan yang spesialis tahu.

Banyak kebun stroberi yang menawarkan atraksi memetik sendiri sambil singgah di saung-saung yang menyajikan masakan khas Sunda. Selain itu, juga ada beberapa warung yang spesialis menyajikan masakan dari daging kelinci, baik dalam bentuk sate, sop, gule, maupun kelinci goreng. Bahkan, barudak Bandung pun banyak yang berburu kuliner ke Lembang.

Kalau sedang tidak terburu-buru karena ditunggu mojang Bandung anu gareulis pisan, mungkin lintasan ini dapat Anda pilih–khususnya bila memang ingin melakukan wisata kuliner.

0 komentar
macet
 
 

© Bluberry Template Copyright by The Magic World

Template by Blogger Templates | Blog-HowToTricks