Tampilkan postingan dengan label plesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label plesir. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 19, 2010

Soto Mata Sapi dari Madura


Akhirnya, bulan lalu, untuk pertama kalinya saya melintasi jembatan kebanggaan bangsa kita – Jembatan Suramadu. Karya putra bangsa ini membentang sepanjang lebih dari lima kilometer, menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Dari jendela lantai 18 kamar hotel saya di Embong Malang, jembatan ini tampak megah menghiasi panorama sebagian kota Surabaya, Selat Madura, dan sebagian Pulau Madura.

Berbagai jenis sarapan khas Madura pun sempat saya cicipi satu per satu. Dimulai dengan aneka bubur yang dijajakan penjual jongkok di Pasar Bangkalan. Seperti juga hampir selalu dapat dijumpai di berbagai kota Indonesia lain, bubur dan berbagai jajan pasar merupakan hidangan sarapan yang cocok. Pasalnya, berbagai jenis bubur ini mengandung karbohidrat yang membuat kenyang, cukup lunak sehingga mudah ditelan di pagi hari ketika “ruh” belum sepenuhnya terkumpul, dan juga mengandung gula yang secara sontak memberi energi.

Karena penjual bubur di Pasar Bangkalan ini kebanyakan berasal dari Desa Sobih, di dekat Bangkalan, maka bubur ini dikenal dengan nama tajin sobih. Jualan utamanya mirip bubur sumsum di Jawa, yaitu bubur dari tepung beras, santan yang dikentalkan, dan gula merah cair. Di samping itu, mereka juga menjual ketan hitam kukus yang dimakan dengan parutan kelapa, lopis, ongol-ongol, cenil, dan berbagai jajan pasar lainnya.

Seperti pernah saya kemukakan, sarapan seperti ini merupakan local wisdom yang akan menyelamatkan kita dari krisis pangan. Sumber karbohidratnya tidak melulu dari beras, melainkan dari berbagai umbi yang tersedia luas dan mudah ditanam dalam kondisi yang pas-pasan.

Karak dan nasi serpang

Sarapan kedua saya adalah makanan yang di Madura dikenal dengan nama karak. Uniknya, masakan khas ini hanya “beredar” di kampung Timur Pasar, tidak jauh dari alun-alun Bangkalan. Ternyata, yang disebut karak bukanlah nasi gosong yang melekat di dasar periuk seperti yang saya sangka semula. Disajikan di pincuk daun pisang, nasinya adalah campuran ketan hitam dan beras, sehingga menghasilkan tekstur yang sungguh khas. Tidak sepulen ketan (dalam bahasa Madura disebut plotan), dan menjadi lebih lembut karena dicampur beras. Lauknya hanya sejumput teri goreng dan parutan kelapa. Hidangan sederhana ini merupakan sarapan yang memuaskan.

Selain karak, di Bangkalan juga populer nasi serpang. Lagi-lagi, penamaan ini semata-mata karena semua penjual nasi di pinggir jalan ini berasal dari Desa Serpang di utara Bangkalan. Salah satu penjual nasi serpang yang populer – mungkin karena penjualnya cantik – mangkal di pinggir Jalan Lemahduwur, dekat Pecinan-nya Bangkalan.

Sebetulnya, nasi serpang ini hampir identik dengan nasi kucing yang sekarang populer di Jawa. Nasinya sedikit, dengan pilihan berbagai lauk sederhana. Tetapi, orang Madura memang dikenal piawai dalam hal memasak. Para ibu rumah tangga di Surabaya kebanyakan akan mencari pembantu dari Madura karena alasan ini.

Kesederhanaan lauk-pauk nasi serpang tetap dibalut dalam kerangka keahlian memasak ini. Semua masakannya seudeup. Duh, bahasa Sunda ini mungkin belum eksis, ya? Istimewanya lagi, penjual nasi serpang selalu menghadirkan masakan yang bahannya dari laut hingga udara. Mulai dari berbagai masakan ikan dari gatra laut, sayur-mayur dan ayam dari gatra darat, hingga burung puyuh goreng yang mewakili gatra udara. Hanya masakan dari gatra “kepolisian” saja yang tidak ada. He he he ...

Juara dan mak nyuss..

Dalam tulisan tentang Madura beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis tentang masakan juara dari Rumah Makan Amboina di dekat alun-alun Bangkalan. Bukan masakan Ambon, melainkan karena si empunya adalah orang Madura asli yang pernah beberapa tahun “terdampar” di Ambon.

Nah, juara keduanya adalah Rumah Makan Hikmah, di pinggir jalan raya utama Bangkalan. Rumah makan ini menghadirkan berbagai masakan khas Madura. Salah satu yang paling khas di sini adalah ikan bang-bangan (dalam logat Madura diucapkan sebagai beng-bengan). Ikan bang-bangan adalah ikan kakap merah yang dikeringkan dengan sedikit garam. Setelah kering, ikan ini dilembabkan kembali (rehydrate), lalu diiris tipis-tipis, dan dimasak dengan kuah mirip semur kental, tetapi dengan sedikit petis ikan. Dengan nasi hangat saja, sajian ini benar-benar mampu menggoyang lidah.

Madura juga terkenal dengan bebek gorengnya. Sekalipun menurut benchmark saya bebek paling juara adalah masakan H. Slamet Rahardjo di Kartasura – yang sekarang sudah buka waralaba di berbagai kota – tetapi, bebek goreng Madura sungguh tidak dapat dianggap enteng. Di Jalan Tembaan, samping Tugu Pahlawan Surabaya, ada penjual bebek goreng Madura yang istimewa. Begitu juga di “Kampung Madura” di Pulogadung.

Di jalan raya menuju Ketengan, ke arah Timur Bangkalan, ada Rumah Makan Sinjay yang khusus menjual bebek goreng. Rumah makan ini ternyata menjadi persinggahan mobil-mobil yang ramai lewat. Setiap harinya ratusan ekor bebek “dibantai” di sini.

Bebek gorengnya empuk, dengan bumbu yang meresap ke tulang. Di atas bebek yang digoreng hitam, ditaburkan sisa-sisa bumbu yang menjadi kering digoreng. “Kremes” yang sungguh gurih. Sambal trasinya diperkaya dengan serutan mangga muda. Mak nyuss!

Petualangan kuliner saya di Bangkalan ini ditutup dengan satu menu yang unik dan istimewa. Soto mata sapi! Ini bukan dari mata sapi berbentuk telur ayam goreng! Melainkan dari matanya sapi. Tersedia di Warung Istimewa, di jalan raya Desa Burneh, ke Timur dari Bangkalan.

Setiap hari, warung ini “memborong” bagian mata sapi (berikut sedikit tulang tengkorak yang mengelilinginya) dari berbagai pasar. Bahan dasar ini direbus sampai lima jam, sehingga menghasilkan kuah yang kental dan pekat. Bagian padat mata sapi masih utuh terbalut tulang. Setelah dibumbui, mata sapi ini disajikan sebagai soto dengan tambahan sedikit irisan daging sapi rebus.

0 komentar

Ke Bandung Lewat Pinggiran


Gurame Bakar Cobek Mang Use.
Ayam Bakar Sederhana.
Tape Ketan Putih.

Jalan tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) membuat Jakarta-Bandung seperti tak berjarak lagi. Beberapa kali saya berangkat dari Semanggi di Jakarta Selatan dan tiba di Pintu Tol Pasteur, Bandung, 2 jam kemudian. Padahal, pada saat-saat macet, jarak dari Semanggi hingga ke rumah saya di Sentul City sering kali juga harus ditempuh dalam waktu 2 jam.
Kalau sedang tidak terburu-buru karena ditunggu "mojang Bandung anu gareulis pisan", mungkin lintasan ini dapat Anda pilih.

Semula banyak orang beranggapan bahwa dengan hadirnya jalan tol itu, hotel-hotel di Bandung akan sepi mengingat banyak orang dapat pergi-pulang tanpa menginap. Nyatanya, setelah jalan tol itu beroperasi, semakin banyak pula hotel baru bermunculan di Bandung.

Yang jelas, banyak tempat makan di lintasan lama yang kini kehilangan para tamunya. Bahkan, banyak yang terpaksa melakukan downsizing. Rumah Makan Alam Sari, misalnya, yang dulu pernah punya empat lokasi, sekarang hanya tinggal dua. Itu pun terpaksa dengan cara membuka lokasi baru yang tampak dari jalan tol. Tidak sedikit warung kecil yang terpaksa gulung tikar karena kehilangan traffic yang semula mengarus 24 jam di lintasan itu.

Soto Sadang di pinggiran Purwakarta, contoh yang lain, tampak agak sepi sekarang. Untungnya, soto Sadang melakukan “jemput bola” dan membuka gerai-gerai kecil di beberapa SPBU di jalan tol Jakarta-Cikampek maupun Purbaleunyi. Bila kangen Soto Sadang, biasanya saya singgah di pitstop Kilometer 57 Cikampek-Jakarta. Pilihannya adalah soto dengan kuah bening atau santan, dengan isian ayam, sapi, atau babat. Soto Sadang sekarang juga menyediakan sop buntut.

Purwakarta

Minggu lalu, saya sengaja pergi ke Bandung melewati lintasan lama. Kota pertama yang saya singgahi adalah Purwakarta. Selain soto sadang, Purwakarta juga terkenal dengan sate maranggi. Terus terang, saya lebih suka sate maranggi gagrak Cianjur. Di Cianjur, sate maranggi hanya dibuat dari daging sapi.

Setelah dagingnya dirangkai menjadi sate, direndam dalam bumbu yang utamanya terdiri atas kecap manis dan ketumbar sehingga hasil akhirnya adalah tendangan rasa mirip dendeng. Sate maranggi gagrak Cianjur ini mirip sekali dengan sate sapi manis di Ungaran, seperti Pak Kempleng atau Pak Isman.

Di Purwakarta, satenya hanya direndam dalam kecap manis. Ada pilihan daging, yaitu sapi atau kambing. Karena direndam semalam, secara teknis dagingnya telah mengalami pelayuan (aged) sehingga membuatnya lebih empuk.

Sayangnya, di Purwakarta juga tidak ada tradisi makan sate maranggi dengan nasi uduk. Di Cianjur, sate maranggi umumnya dimakan dengan nasi uduk yang dimasak dengan sedikit kunyit sehingga warnanya kuning muda. Satenya juga disajikan dengan sambal oncom.

Di Desa Cihuni, pinggiran Purwakarta, ada beberapa penjual sate maranggi. Salah satu yang paling terkenal adalah Mang Use. Sebetulnya, dibandingkan dengan yang lain, Mang Use relatif belum lama berjualan. Sejak tahun 1998 ia berjualan keliling kampung dengan pikulan.

Namun, sejak tiga tahun yang lalu ia mengubah posisi. Bukan Mang Use yang berkeliling mencari pembeli, melainkan pembelinya yang harus datang ke rumah Mang Use yang bagian depannya telah disulap menjadi warung sate maranggi.

Kentara sekali bahwa warung Mang Use yang paling laris di lintasan itu. Selain sate maranggi, di warung ini juga tersedia gurame bakar cobek. Mungkin karena saya sudah telanjur setia dengan sate maranggi Cianjur, di warung Mang Use ini yang mengesankan bagi saya justru gurame cobek. Sambalnya tidak terlalu pedas, tetapi sangat gurih. Kalau saya perhatikan dengan teliti, tampaknya kegurihan sambal itu didukung oleh bawang merah yang digoreng utuh dengan kulitnya, baru kemudian digerus menjadi sambal.

Kalijati

Dari Purwakarta, perjalanan saya teruskan ke Kalijati. Kota kecil itu cukup terkenal karena di sini ada pangkalan TNI AU yang hingga kini masih aktif. Pada masa pendudukan Jepang, pangkalan itu pernah menjadi landasan strategis bagi balatentara Jepang.

Ada satu tempat makan di Kalijati Barat yang tidak boleh dilewatkan. Namanya RM Sederhana. Tempatnya di tepi jalan raya, karena itu cukup populer dan cukup mudah ditemukan.

Hidangan istimewa di rumah makan ini adalah ayam bakar. Menjelang jam makan siang, beberapa puluh ayam panggang tampak bertumpuk di sebuah lemari kaca. Sangat menggiurkan. Sepintas tampak seperti ayam goreng karena warnanya yang coklat cantik.

Akan tetapi, sebenarnya itu dihasilkan dari “teknik” memanggang yang lebih mirip seperti mengasap. Lidah api sama sekali tidak menyentuh ayam yang dibakar, tetapi bara panasnya cukup membuat ayam matang. Teknik yang sama juga dipakai dalam membakar ayam tandoori di India.

Karena yang dipakai adalah ayam kampung, hasilnya adalah ayam bakar yang garing tidak berlemak, gurih, dan renyah. Saya sengaja memakai istilah renyah karena teksturnya memang tidak empuk. Saya sungguh terkesan dengan penampilan dan citarasa ayam bakar itu.

Di rumah makan tersebut, penyajiannya juga mirip di rumah makan padang. Semua masakan sudah tersedia di meja–kecuali ayam bakar yang harus diminta khusus. Lauk-pauk yang tersedia di meja adalah standar masakan Sunda: tahu dan tempe goreng, ikan mas goreng, dan lain-lain. Lalapannya khas, yaitu hadirnya seikat daun singkong yang dikukus utuh dalam ikatannya–di samping sayur-mayur mentah yang biasa dilalap. Sambalnya adalah pilihan sambal dadak atau sambal oncom.

Saya memilih sambal oncom tentu saja. Soalnya, di Desa Dawuan, tidak jauh dari Kalijati, banyak dijumpai pembuat oncom khas Dawuan yang dibuat dari kacang tanah. Kebanyakan oncom di Bandung dibuat dari ampas tahu–alias kedelai kuning. Oncom dari kacang tanah tentu saja rasanya lebih gurih.

Selain lauk-pauk melimpah, di meja juga tersedia dessert berupa tape dari ketan putih yang dibungkus daun kemiri. Penampilannya sangat mirip dengan tape ketan putih di Brebes, Jawa Tengah. Bedanya, di Brebes tapenya dibungkus daun jambu air, sedangkan di Kalijati pembungkusnya adalah daun kemiri. Keduanya menciptakan jejak pulasan warna hijau lembut pada tape yang manis. Tape itu juga cocok untuk dibungkus sebagai oleh-oleh.

Setelah Subang

Di lintasan itu juga banyak terdapat warung nasi Sunda yang berjajar-jajar di tepi jalan Desa Cijambe, tidak jauh setelah melintasi Subang. Kebanyakan warung nasi di sini memanfaatkan pemandangan indah pegunungan. Bahkan, ada yang menghadap ke hamparan kebun teh.

Saya singgah di RM Nangka. Seperti juga kebanyakan warung di Cijahe, di sini juga ada berbagai pilihan nasi: nasi timbel, nasi bakar, nasi merah, nasi liwet, dan nasi tutug oncom. Ada pula beberapa lauk yang jarang muncul di tempat lain, misalnya gepuk atau empal yang dibentuk seperti bola dan diikat bambu halus. Empuk dan gurih.

Setelah Cijahe, titik berhenti berikutnya yang dapat disinggahi adalah Cikole dan Lembang. Di Lembang lebih banyak pilihan. Di pasar ada yang menjual ketan bakar dengan berbagai bumbu. Ada juga dua rumah makan yang spesialis tahu.

Banyak kebun stroberi yang menawarkan atraksi memetik sendiri sambil singgah di saung-saung yang menyajikan masakan khas Sunda. Selain itu, juga ada beberapa warung yang spesialis menyajikan masakan dari daging kelinci, baik dalam bentuk sate, sop, gule, maupun kelinci goreng. Bahkan, barudak Bandung pun banyak yang berburu kuliner ke Lembang.

Kalau sedang tidak terburu-buru karena ditunggu mojang Bandung anu gareulis pisan, mungkin lintasan ini dapat Anda pilih–khususnya bila memang ingin melakukan wisata kuliner.

0 komentar

Little Nederland


Ke mana mengisi liburan? Barangkali Semarang bisa menjadi alternatif tujuan wisata, termasuk wisata ke Pecinan tentunya.Semarang, Little Holland, atau Little Nederland punya banyak daya tarik. Kota lama beserta bangunan bersejarah, Pecinan, dan kuliner legendaris bagaikan magnet yang sulit ditolak.

Arsitektur bangunan di kawasan Kota Lama, Semarang, beragam. Ada Gereja Blenduk (Nederlandsch Indische Kerk) bikinan 1750 dengan atap kubah yang dipugar pada 1894.

Di hadapan gereja ini berdiri gedung karya Thomas Karsten pada tahun 1916 yang kini menjadi Gedung Asuransi Jiwasraya. Tak lupa bangunan Stasiun Tawang yang mencoba tetap bertahan dari terjangan rob. Tambahan lagi, Pasar Semawis yang menghidupkan Pecinan.

Liem Thian Joe, dalam Riwayat Semarang, menyebutkan, kehidupan di Pecinan Lor yang kini bernama Gang Warung pada masa silam adalah pusat perhubungan. Ke sebelah barat bisa berhubungan dengan kampung pribumi yang sekarang jadi Kampung Kranggan dan Pasar Semarang (kini Pasar Damaran).

Sementara ke arah utara melintasi kali berhubungan dengan apa yang kini dikenal sebagai Petudungan, Pandean, Jerukkingkit, Ambengan, dan lain-lain.

Dalam buku itu ia juga mengisahkan asal-usul Pasar Johar. Pada tahun 1860, pasar ini merupakan bagian dari alun-alun, di bagian tepi sebelah timur yang berbatasan dengan jalan tumbuh pohon johar atau mahoni.

Pohon itu bikin teduh sehingga banyak orang senang berteduh di sana. Lama-lama pasar-pasar kecil pun tumbuh di bawah pohon ini. Pasar kecil ini pun berkembang dan membesar.

Pada 1865 bagian alun-alun ini telah menjadi pasar dengan pohon johar yang jug masih berdiri. Maka, jadilah nama pasar itu Pasar Johar. Pembesar kota kemudian membangun los dan pohon johar pun ditebang. Akan tetapi, tetap saja nama pasar itu Pasar Johar.

Seperti juga Gereja Blenduk, Pasar Johar adalah kreasi Thomas Karsten. Karsten tak berhenti sampai di Pasar Johar. Karya lain sebut saja Lawang Sewu, gedung yang kini jadi kantor Asuransi Jiwasraya, dan Perkampungan Mlaten.

Pada literatur lain disebutkan, struktur Little Nederland selesai dibangun pada tahun 1741 dan merupakan kawasan untuk orang Belanda. Di sini pernah ada perkantoran, hotel, perumahan, dan bangunan perdagangan lainnya dengan ikon Gereja Blenduk.

Semarang Tempo Dulu: Teori Desain Kawasan Bersejarah yang ditulis Wijanarko menyebutkan juga, Kampung Kauman, Pecinan, Kampung Melayu, dan Little Nederland mengelilingi apa yang dinamakan kota lama Semarang.

Yang layak disebut Kota Lama Semarang harusnya adalah Kanjengan. Namun, kompleks Kanjengan serta alun-alunnya sudah tak ada, hanya tersisa Masjid Agung Kauman. Sementara apa yang disebut Little Nederland adalah kawasan di sekitar Gereja Blenduk dengan berbagai gaya bangunan.

Semarang memang sangat menarik untuk ditelusuri. Selain urusan mata, yaitu terkait sejarah kota dan bangunan bersejarah, urusan perut juga tak boleh terlewatkan. Pasar Semawis di Pecinan layak dikunjungi. Deretan warung kaki lima yang pastinya bikin lupa diri siap unjuk rasa.

Belum lagi resto legendaris, Toko Oen, yang juga layak disambangi. Toko Oen berawal di Yogyakarta pada 1922, tetapi kemudian si empunya toko, Liem Gien Nio, memutuskan Semarang sebagai cabang pertama pada tahun 1936.

Toko Oen tak hanya menjadi cabang pertama, tetapi juga menjadi resto pertama di Semarang. Penganan ala Eropa hingga sekarang masih dipertahankan, antara lain es krim.

Dalam rangka mengenal Semarang dan Cap Go Meh, Komunitas Sahabat Museum menggelar Plesiran Tempo Doeloe ke Little Nederland pada 26-28 Februari. Biaya Rp 1,5 juta per orang antara lain untuk transportasi menggunakan kereta api, menginap di hotel tua, dan naik loko uap di Ambarawa sekaligus Museum Ambarawa.

"Kita akan ditemani Pak Prianto, ahli sejarah dari Universitas Diponegoro. Kita juga akan lihat stasiun pertama di Semarang, dipandu Pak Tjahjono. Pastinya enggak ketinggalan ke Pecinan, kelenteng, dan ngerasain kuliner legendaris Semarang," kata Ketua Komunitas Sahabat Museum Adep Purnama.

Ia juga mengatakan, peserta akan diberi tempat di hotel bersejarah, Hotel Bellevue. Hotel bergaya art deco ini dibangun pada 1919 dimiliki oleh Van Demen Wars. Kemudian sejak 1961 nama hotel berubah menjadi Hotel Candi Baru. Untuk mendaftar atau mengetahui informasi lebih detail, ia bisa dihubungi di adep@cbn.net.id. Tertarik? Ayo, segera daftar!
0 komentar

Romantisme Hindu-Islam di Situ Cangkuang



Candi Cangkuang
Candi Cangkuang, Garut, Jawa Barat.
Gapura memasuki kampung adat Pulo di komplek situs Candi Cangkuang, Garut, Jawa Barat.


Danau kecil atau oleh penduduk lokal disebut dengan situ menjadi sebuah pembuka saat para pelancong menapakkan kakinya di Situ Cangkuang. Bentangan danau yang ditumbuhi ratusan bunga teratai liar memagari pulau seberang seolah membawa pelancong memasuki gerbang surga keindahan alam yang diciptakan oleh Tuhan, surga yang langsung bisa dinikmati oleh mata telanjang manusia. Belum lagi udara pagi dengan lapisan kabut tipisnya menyapu bibir kawasan tersebut seolah mengerti apa yang dicari oleh pelancong.

Situ Cangkuang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Berada di sebuah kawasan perbukitan kecil yang memiliki ketinggian 695-706 meter dpl serta berdiri di lembah seluas 16,5 ha yang berhawa sejuk. Situ yang di kelilingi gugusan gunung di empat penjuru mata anginnya seperti Gunung Mandalawangi, Gunung Kaledong, Gunung Halimun, Gunung Batara Guru, Gunung Guntur dan Gunung Cikuray menjadikan situ Cangkuang sebagai pemikat alam yang menawarkan keindahan yang luar biasa.

Mengunjungi Situ Cangkuang tidak hanya sekadar menikmati sajian alam yang menawan. Namun romantisme Hindu dan Islam yang pernah tergali dari situs candi yang ditemukan di tengah Situ Cangkuang. Candi bercorak Hindu ini ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Candrasasmita berdasarkan atas laporan yang ditulis Vorderman dalam buku notulen Bataviaasch Genootshap (terbit tahun 1893). Dalam tulisan tersebut disinggung tentang temuan sebuah arca (Hindu) di sekitar situ dan sebuah makam keramat yang yakini sebagai Embah Dalem Arif Muhammad yang sangat dihormati oleh penduduk setempat.

Candi Cangkuang seperti yang terlihat sekarang ini, sebetulnya adalah hasil rekayasa rekonstruksi yang diresmikan pada tahun 1978. Sebab bangunan aslinya hanya tinggal 35 persenan, sedangkan bentuk bangunan Candi Cangkuang yang asli sebenarnya belum diketahui. Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa dimana candi tersebut ditemukan. Sedangkan desa Cangkuang sendiri berasal dari nama pohon yang tumbuh subur di sekitar makam Embah Dalem Arif Muhammad, namanya pohon Cangkuang. Termasuk tanaman jenis pandan (Pandanus Furcatus), dahulu kala daunnya dapat dipergunakan untuk membuat tikar maupun untuk pembungkus gula aren.

Konon ceritanya Embah Dalem Arif Muhammad merupakan panglima perang dari kerajaan Mataram. Bersama prajuritnya mereka mencoba menyerang tentara VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia sekarang Jakarta. Namun mengalami kekalahan, oleh karenanya Embah Dalem Arif Muhammad bersama pengikutnya merasa malu untuk pulang ke kerajaan Mataram. Dalam perlariannya mereka akhirnya memutuskan untuk menetap di kawasan Cangkuang yang waktu itu penuh dengan pemeluk kepercayaan animisme dan Hindu.

Bersama pengikutnya, Embah Dalem Arif Muhammad kemudian menyebarkan agama Islam dengan arif dan bijaksana. Embah Dalem Arif Muhammad kemudian menikahi seorang puteri cantik jelita yang tinggal di kawasan tersebut, namun puteri tersebut meminta satu syarat yang harus dipenuhi oleh sang calon suaminya. Membuatkan sebuah danau yang mengelilingi desanya. Dengan kekuatan yang dimiliki Embah Dalem Arif Muhammad akhirnya bisa mewujudkan. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai enam anak perempuan. Keenam anaknya inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya kampung adat Pulo. Pemukiman warga yang hanya terdiri dari enam rumah dan berada tepat di belakang Candi Cangkuang.

Untuk mencapai ke situs Cangkuang, para pelancong akan segera disambut dengan rakit-rakit bambu yang siap mengantarkan hingga ke pulau seberang. Dengan membayar Rp 3.000, para pelancong akan merasakan sensasi gelombang air danau sepanjang 500 meter. Kalau beruntung para pelancong bisa melihat aktivitas warga yang menjaring ikan. Dengan keahliannya, mereka hilir mudik di atas rakit sambil menebar jala. Sekitar 10 menitan Anda sudah mencapai pulau tersebut. Dengan membayar Rp 2000 untuk restribusi masuk ke situs Candi Cangkuang dan Kampung adat Pulo. Anda bisa menelusuri kembali romantisme yang dulu terbangun antara Islam-Hindu.

Desa Cangkuang terletak disebelah utara Kabupaten Garut masuk Kecamatan Leles, tepatnya 16 km dari Garut atau 54 km dari Bandung. Untuk mencapai situs Cangkuang dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat. Dari Jalan Raya Bandung - Tasikmalaya, lebih kurang 9 km meninggalkan Bandung, tidak jauh dari turunan Nagrek akan menemukan persimpangan menuju Kabupaten Garut atau jantung kota Garut.

Setibanya di alun-alun Kecamatan Leles, ada sebuah papan petunjuk yang jelas dan mengarahkan para pelancong ke lokasi situs Cangkuang. Masuk ke dalam sejauh kurang lebih 3 km, kendaraan roda empat atau angkutan umum masih bisa melewati jalan ini. Para pelancong juga bisa memilih angkutan ojek, delman (angkutan tradisional yang ditarik dengan kuda) atau berjalan selama 30 menit sembari menikmati jajaran gunung Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur yang menjulang tinggi. Tidak lama kemudian pelancong segera disambut dengan gapura yang tidak terlalu besar yang menandakan Selamat Datang di situ Cangkuang.

Nah tidak ada salahnya bagi para pelancong untuk menyisipkan kegiatan liburan kali ini dengan mencoba menerobos keindahan Garut, dengan mengunjungi situ Cangkuang yang eksotis serta melihat tinggalan sejarah yang unik dengan menelusuri kembali romantisme Hindu-Islam di Candi Cangkuang serta kampung adat Pulo yang hanya memiliki enam rumah.
0 komentar

Air terjun Victoria




Air terjun Victoria merupakan salah satu air terjun paling spektakuler di dunia. Air terjun ini terletak di Sungai Zambezi, yang pada saat ini membentuk perbatasan antara Zambia dan Zimbabwe. Air terjun ini memiliki lebar kira-kira 1 mil (1,6 km), dengan ketinggian 128m (420 kaki).

David Livingstone, penjelajah Skotlandia, mengunjungi danau ini pada 1855 dan menamakannya atas nama Ratu Victoria, sedangkan nama lokalnya adalah Mosi-oa-Tunya, "asap menggelegar." Air terjun ini merupakan bagian dari dua taman nasional, Mosi-oa-Tunya National Park di Zambia dan Victoria Falls National Park di Zimbabwe, dan juga Situs Warisan Dunia UNESCO. Air terjun ini merupakan obyek wisata utama di Afrika Selatan.
Air terjun utama di Air terjun Victoria memiliki ketinggian mencapai 108 m dengan jumlah terjunan 1 buah. Kecepatan aliran rata-rata 1088 m³/s (38,430 cu ft/s).Air Terjun Victoria disebut juga Mosi-oa-Tunya.

Air Terjun Victoria dengan jembatan pengubung antar ngarai, tebing dalam merupakan daerah Zambia, sedangkan tebing luar merupakan daerah Zimbabwe
0 komentar
macet
 
 

© Bluberry Template Copyright by The Magic World

Template by Blogger Templates | Blog-HowToTricks